oleh

“Salam Sunda” Cara Terbaik Social Distancing, Sapaan Beradab Tanpa Berjabat

Oleh Abdillah, – Kepala SMKN Tirtamulya Karawang

Geliat SMK Karawang – Social Distancing yang digaung-gaungkan oleh pemerintah dianggap efektif untuk membatasi ruang gerak COVID-19 yang sekarang sedang mewabah di Indonesia. Ajakan, seruan, pamflet, bahkan video dibuat untuk mengkampanyekan gerakan tersebut.

Dalam satu obrolan santai dengan Jurnalis GSK, Abdillah menjelaskan bahwa Social distancing adalah mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain, mengurangi kontak tatap muka langsung. Langkah ini termasuk menghindari pergi ke tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti supermarket, bioskop, bahkan sekolah. Namun jika dalam keadaan harus keluar rumah maka disarankan untuk menjaga jarak guna menghindari kontak fisik dengan orang lain, dan jarak yang dianjurkan adalah 1,5 m.

Untuk menghindari kontak fisik dengan orang lain, dalam bersalaman/berjabat tangan disarankan untuk menggunakan model Namaste. Abdillah menerangkan bahwa Namaste adalah  salam agama Hindu yang umum dilakukan di wilayah India dengan menyatukan dua tangan di depan dada. “Kadang hati saya tergelitik, kenapa namaste yang d rekomendasikan?” Tanya dia. Pertanyaan itu dilandasi pada bahwa dalam tradisi dan budaya di Jawa Barat, hal yang serupa (namaste) juga dilakukan oleh para nenek moyang orang sunda dan disebut dengan Salam sunda. “Budaya di sunda saat melakukan gerakan menyatukan dua tangan di depan dada sambil mengucapkan Sampurasun” Abdillah menerangkan.

Mengkomparasi kebudayaan dalam hal berjabat tangan, dia menjelaskan ternyata salam sunda yg sekarang nyaris jarang digunakan, adalah cara bersalaman yang paling relevan dengan social Distancing ini. “Tetap hormat walau tanpa berjabat” jelas dia kembali. Selanjutnya dijelaskan pula Kepsek SMK yang sekaligus pengurus Paguyuban Pasundan Karawang bahwa tradisi cipika cipiki adalah budaya arab, dan cium tangan sendiri adalah budaya dari Eropa, tentunya dua budaya tersebut menimbulkan kontak fisik maka tentunya akan berbahaya bagi penyebaran COVID-19.

Cipika cipiki Salam khas Budaya Timur Tengah
Di Eropa wanita akan menyodorkan tangan untuk dicium saat berjabat tangan

Dalam analisa dia tentang Salam sunda, Abdillah menjelaskan bahwa melihat dengan konteks zaman sekarang tentang social distancing Salam sunda merupakan produk budaya yang sangat maju pola pikir dari para nenek moyang orang sunda, bagaimana tidak, Salam sunda dibuat untuk mengantisipasi hal-hal seperti itu. Dalam kajian agamapun salam sunda adalah cara untuk tidak membatalkan wudhu saat bersentuhan dengan lain muhrim. “Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi” Jelas Abdillah.

Kaitannya dengan social Distancing dia menerangkan bahwa ada satu pribahasa sunda kuno yang berbunyi Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke, aya ma beuheula aya tu ayeuna, hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna. Hana tunggak hana watang, tan hana tunggak tan hana watang. Hana ma tunggulna aya tu catangna.” Artinya: Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang, karena ada masa silam maka ada masa kini, bila tak ada masa silam takan ada masa kini. Ada tunggak tentu ada batang, bila tak ada tunggak tak akan ada batang, bila ada tunggulnya tentu ada batangnya. “Secara tafsiran bebas pribahasa ini bisa diartikan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan sekarang sudah pernah terjadi pada masa lampau” terangnya. Salam kasundaan dengan posisi tangan seperti itu adalah hasil buah fikiran yang pastinya syarat dengan filosofis dan manfaat bagi kita, “Dan hari ini terbukti , salam sunda terekomendasi sebagai cara terbaik untuk social Distancing.” Pungkas Abdillah mengakhiri obrolan. (SK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *